Pertanyaan-Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Ketika Kuliah di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia


Jawaban pertanyaan tak selalu jawaban~

            Beberapa tahun lalu, saya beranggapan bahwa melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi akan membuat saya terhindar dari pertanyaan macam:

“Dapat gaji per bulan berapa?”

“Suasana di tempat kerja nyaman?”

“Kapan nikah?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan: saya belum sempat mikir ke situ, masih sibuk kuliah. Jawaban tersebut dijamin dapat memutus rasa penasaran keluarga atau teman ketika ada reuni. Nyatanya, pertanyaan-pertanyaan yang seakan-akan mengintervensi dengan konteks pembicaraan lain selalu saya terima. Pertanyaan itu tak jauh-jauh dari program studi yang saya ambil: Bahasa dan Sastra Indonesia.

Setidaknya ada dua hal utama yang menyebabkan keluarga maupun teman saya yang kepo mengenai program studi atau jurusan yang sedang saya geluti. Pertama, kurangnya pengetahuan mengenai kampus tempat saya belajar. Ya, Universitas Pendidikan Indonesia di pikiran keluarga dan banyak teman adalah kampus yang mencetak mahasiswa-mahasiswanya menjadi seorang guru. Padahal jika ditelusuri lebih dalam, ada banyak program studi di kampus ini yang tidak menciptakan mahasiswanya menjadi seorang guru. Iya, memang, jadi guru itu keren dan besar pahalanya. Tetapi banyak juga orang yang enggan menjadi guru karena beberapa alasan. Saya termasuk orang yang memiliki salah satu alasan itu. Kedua, kurangnya pengetahuan mengenai program studi yang saya geluti. Seringkali orang yang mengajak saya bicara—baik keluarga maupun teman—ketika saya mengatakan bahwa program studi yang saya geluti adalah Bahasa dan Sastra Indonesia, spontan jawaban yang timbul adalah: wah, jadi pujangga nih! Memang tidak sepenuhnya salah. Namun jawaban itu seakan membatasi pemikiran bahwa lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia hanya berurusan dengan puisi, puisi, dan puisi.

Berikut ini akan saya sajikan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul ketika kamu menjadi seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia.

1.      Nanti kerja apa?

Pertanyaan seperti ini lebih sering dilontarkan orangtua yang belum terlalu paham mengenai program studi yang diinginkan anaknya. Pertanyaan semacam ini wajar diucapkan karena orangtua menginginkan anaknya kelak terjamin dalam urusan materi. Jujur, saya sendiri bingung menjawabnya ketika pertanyaan ini dialamatkan kepada saya. Bukan berarti gelap terhadap masa depan. Setiap orang pasti punya impian tersendiri terhadap masa depannya kelak. Ada yang ingin bekerja dengan mengandalkan gaji setiap bulan, ada yang ingin bekerja secara bebas.

Tetapi demi kemaslahatan umat bersama, akan saya coba jawab—sekuat semampuku. Perlu dipisahkan terlebih dahulu konsentrasi yang ingin dipilih: linguistik (bahasa) atau sastra. Konsentrasi linguistik (bahasa) tentu akan membentuk mahasiswa menjadi orang yang memahami seluk-beluk bahasa—fonologi, morfologi, sintaksi, dan sebagainya. Maka, pekerjaan yang berada dalam wilayah itu misalnya editor, wartawan, pembawa berita, dan lain-lain.

            Konsentrasi sastra akan mencetak atau menjejali pikiran-pikiran mahasiswa dengan segala pengetahuan tentang sastra. Pekerjaan yang berada dalam wilayah ini contohnya peneliti, penulis, sastrawan, dan lain-lain.

2.      Gak bosen belajar bahasa Indonesia terus?

Pertanyaan seperti ini memang agak menjengkelkan. Sebuah pertanyaan yang sebagian besar diiringi nada ejekan. Tapi tak apa, sabar, sabar, sabar. Orang sabar disayang Tuhan, katanya. Pertanyaan ini cocok dibalas dengan pertanyaan: gak bosen makan nasi terus?

Semenjak sudah bisa mengonsumsi nasi, saya bersyukur selalu bisa mengonsumsi nasi beserta temannya, walaupun sederhana. Ya, paling sederhana makan nasi plus garam. Kebiasaan mengonsumsi nasi plus temannya yang sederhana ini membuat saya sampai detik ini tidak pernah bosan makan nasi. Begitu juga dengan belajar bahasa Indonesia. Belajar bahasa Indonesia tidak melulu tentang struktur kalimat, majas, ide pokok dalam kalimat, dan lain-lain. Lebih luas daripada itu, meliputi bagaimana makna yang terkandung dalam sebuah kalimat, tindak tutur yang disampaikan, dan masih banyak lagi. Itu yang membuat saya sampai detik ini tidak pernah bosan belajar bahasa Indonesia.

3.      Anak sastra, pasti suka kopi dan senja, ya?

Untuk pertanyaan terakhir ini, serius, saya tidak bisa menjawab. Kenapa anak sastra diidentikkan dengan kopi dan senja? Saya menyukai keduanya sebelum menjadi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Apabila ditanya korelasinya apa antara kopi dan senja, ya, saya juga tidak tahu. Tetapi mungkin jawaban ngawur saya, artikel yang saya baca, dan pembicaraan yang saya dengar semoga dapat menjawab pertanyaan ini.

Menurut saya—berdasarkan hipotesis yang tidak berdasar pada buku apapun—anak sastra diidentikkan dengan kopi dan senja karena dianggap sebangsa dengan anak indie. Ya, musik indie. Musik yang setiap liriknya biasanya terdiri dari kata-kata puitis nan romantis. Kepiawaan sastra dalam menciptakan kata-kata yang memiliki keindahan tersembunyi dari penciptanya mungkin disamakan dengan indie yang melepaskan diri dari keumuman-keumuman dan pakem-pakem yang sudah ada. Sekali lagi, ini hanya argumen. Bukan fakta sebenarnya. Mungkin.

Menurut Ilda Kawayu, dalam resensinya berjudul “Perginya Seekor Burung: Kumpulan Puisi untuk Kalangan Indie di Buruan.co, kata-kata dalam musik indie seperti senja, semesta, kopi, sebagian besar memang sering ada di dalam sebuah puisi. Maka, tak heran apabila sastra selalu dikait-kaitkan dengan indie.

Sedangkan komika Wira Nagara pernah mengatakan bahwa bermunculannya orang-orang yang menasbihkan dirinya sebagai anak indie, dipicu oleh populernya cerita pendek milik Seno Gumira Ajidarma berjudul Sepotong Senja untuk Pacarku beberapa tahun lalu. Ucapan tersebut ia lontarkan kala menjadi pembicara pada Seminar Kreativitas Sastra IX di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP Siliwangi) tanggal 3 November 2019. Ia juga mengatakan bahwa sastra itu dekat dengan masyarakat, salah satu contohnya, ya, dengan bermunculannya anak-anak indie.

Terlepas dari anak sastra atau anak indie, menurut saya siapa saja berhak untuk menyukai kopi dan senja. Keduanya indah dan enak. Mensyukuri nikmat yang Tuhan ciptakan merupakan tanda seseorang memiliki ketakutan terhadap Sang Pencipta, bukan?

Kalau masih saja ada orang yang meneror menanyakan nanti saya mau jadi apa, saya hanya akan jawab:

“Mau jadi anak yang soleh, cerdas, berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.”


Comments

Popular Posts

Kritik dan Saran

Name

Email *

Message *

Total Pageviews