Objektifikasi Laki-Laki; Menggugah Kesadaran Egaliter
![]() |
| Sumber Foto: BBC |
Disclaimer: tulisan ini akan sedikit sensitif dan memancing diskursus keegaliteran laki-laki dan perempuan. Tak perlu dimasukkan ke dalam hati. Cukup ditukar dengan argumentasi.
Menjadi laki-laki adalah peran yang diberikan-Nya kepada kita sebagai makhluk di bumi. Tiada konfrontasi atau penolakan, kita menerima kehendak-Nya menjadi laki-laki. Tak ada yang berhak menilai bahwa laki-laki lebih baik daripada perempuan. Begitupun sebaliknya.
Diskursus tentang laki-laki dan perempuan sejatinya tak pernah surut. Ia justru menjadi bola liar yang dihiasi api kebencian. Hasilnya; dikotomi ekstrem tentang siapa yang menderita di antara dua jenis kelamin tersebut. Di sini, saya tak akan menyoroti hal-hal yang berada di luar pengamatan dan pengalaman saya. Apa yang akan saya ungkapkan sejatinya adalah hasil renungan dan perasaan yang telah dilalui. Jika tak setuju, tak masalah. Saya hanya ingin berbagi cerita.
Sebagai seorang laki-laki—atau lebih tepatnya anak laki-laki—tentu belajar banyak dari sosok pemimpin di rumah; Ayah. Darinya, kita belajar banyak hal. Mulai dari kerja keras dalam urusan pekerjaan, melindungi keluarga dari marabahaya, kelaparan, dan kekhawatiran masa depan, hingga menyisihkan waktunya untuk memastikan semua bagian keluarga tidur dengan tenang. Dari saya, saya melihat bahwa laki-laki tidak diciptakan untuk mengeluh, menderita, dan merasakan sakit. Apa pun kondisinya, lalui saja. Begitu singkatnya.
Satu bulan sebelum 17 tahun, saya berusaha menjadi lelaki dewasa—meniru sosok Ayah yang tak kenal menyerah dalam hidup sebelum kematian menghampiri. Saya belajar bahwa beberapa hal, baik itu harapan maupun impian, mesti dikubur demi ketenteraman keluarga. Saya belajar menjadi lelaki yang kuat di muka umum dan hancur di muka-Nya. Saya mengerti bahwa hanya diri sendiri yang pantas untuk dijadikan teman berbagi.
Seiring bertambahnya umur dan keharusan beradaptasi dengan situasi baru, pemikiran itu mulai didisrupsi oleh norma kebarat-baratan itu; toxic masculinity. Bagi saya, istilah ini kurang relevan diterapkan di semua lelaki—mungkin juga tergantung kepada lingkungan ia berada.
Inti dari norma ini adalah laki-laki harus selalu kuat, dominan, agresif, dan tahan banting. Ini adalah maskulinitas yang tidak sehat, katanya. Dalam beberapa hal, saya setuju dengan norma ini. Artinya, sebagai manusia yang merdeka, laki-laki pun berhak untuk menyuarakan emosi dan kelemahannya di depan umum. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, “Apakah semua golongan bisa menerima kenyataan tersebut?” Jawaban saya cenderung tidak.
Pertama, ada stigma yang menyatakan, “Laki-laki tidak bercerita.” Ini jelas ditentang dalam toxic masculinity. Laki-laki justru didorong untuk bercerita. Pertanyaan yang sama kembali terulang, “Apakah semua golongan bisa menerima kenyataan tersebut?”
Ketika bercerita, berkaitan dengan apa pun itu, laki-laki cenderung menjadi objek dalam hal adu nasib. Segala permasalahan, penderitaan, dan pengalaman buruk yang mereka luapkan, kerap mendapat respons, “Ah itu gak seberapa, aku lebih…” Tidak ada kesempatan bagi laki-laki untuk mengungkapkan itu semua. Padahal, sejatinya mereka hanya ingin bercerita, bukan beradu kuasa.
Jadi, di titik ini, apakah ada ruang bagi laki-laki untuk bercerita? Saya rasa tidak.
Kedua, objektifikasi yang tidak adil. Dalam kasus pelecehan, selalu muncul istilah ‘objektifikasi perempuan’. Maka, dalam kesempatan ini, saya gunakan istilah ‘objektifikasi laki-laki’. Tidak ada hubungannya dengan hal-hal seksual, tetapi tentang martabat laki-laki. Dalam kasus-kasus pelecehan seksual, seringkali Perempuan menyuarakan pendapatnya yang merasa hanya menjadi objek seksual dari laki-laki. Merasa dirinya hanya jadi komoditas seksual. Saya setuju dengan ini, tidak ada keraguan.
Akan tetapi, apakah objektifikasi itu hanya berlaku bagi perempuan? Apakah tidak ada objektifikasi laki-laki? Mengapa?
Seperti yang saya ungkapkan, objektifikasi bukan hanya tentang hasrat seksual, melainkan juga tentang harkat dan martabat. Perempuan boleh saja merasa menjadi komoditas seksual dalam kasus pelecehan seksual. Akan tetapi, menegasikan laki-laki juga merupakan bentuk objektifikasi secara terang-terangan.
Hari Senin, tanggal 27 April 2026, terjadi kecelakan kereta di Stasiun Bekasi Timur antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL. Data terbaru, ada 15 korban—yang semuanya perempuan—imbas tragedi tersebut. Para korban merupakan perempuan yang berada di gerbong paling belakang dari rangkaian KRL. Duka menyelimuti kita semua, warga Indonesia.
Alih-alih segera membuat rencana yang sistematis dan masif untuk mencegah peristiwa kecelakaan kereta terulang kembali, jawaban Menteri PPPA cukup mengagetkan. Solusi dari kejadian tersebut adalah memindahkan gerbong khusus perempuan ke tengah supaya mencegah risiko saat terjadi benturan. Secara tidak langsung, laki-laki harus menjadi tumbal dari prahara. Apakah ini bukan sebuah objektifikasi bagi laki-laki yang sepanjang hayat berjuang untuk hidup, lalu dijadikan pihak pertama yang harus berhadapan dengan celaka? Laki-laki mana pun tak akan kuat menahan efek dari tabrakan kereta. Mengapa tidak merencanakan sesuatu yang lebih logis daripada semakin meruncingkan dikotomi laki-laki dan perempuan?
Ketiga, laki-laki memiliki tanggung jawab besar terhadap wanitanya. Seorang suami akan menanggung dosa istrinya semasa hidup. Seorang Ayah akan menaggung dosa anak perempuannya—selama anaknya belum menikah. Maka, ketika seorang lelaki memutuskan untuk mempersunting wanita, sesungguhnya ia telah memindahkan tanggungan jawab sang Ayah kepada dirinya. Sejak itu, segala dosa yang dilakukan oleh istrinya, akan menjadi dosa suaminya juga. Menafkahi keluarga dan menanggung dosa istri adalah hal yang sama sekali tidak sederhana. Maka, sampai di sini, apakah mengobjektifikasi laki-laki masih relevan dan beralasan?
Akhirnya, saya hanya ingin menyampaikan bahwa mengobjektifikasi laki-laki adalah hal yang selama ini tak pernah jadi bahan pembicaraan orang. Saya tidak berniat mengalienasi perempuan dari diskursus ini. Saya menghormati betul perempuan. Namun, ketika penghormatan kepada perempuan itu cenderung berat sebelah, rasanya kita perlu menimbang kembali sisi egaliter yang selama ini tertidur di alam bawah sadar.

Comments
Post a Comment