Posts

Showing posts with the label Esai

Objektifikasi Laki-Laki; Menggugah Kesadaran Egaliter

Image
  Sumber Foto: BBC Disclaimer: tulisan ini akan sedikit sensitif dan memancing diskursus keegaliteran laki-laki dan perempuan. Tak perlu dimasukkan ke dalam hati. Cukup ditukar dengan argumentasi.           Menjadi laki-laki adalah peran yang diberikan-Nya kepada kita sebagai makhluk di bumi. Tiada konfrontasi atau penolakan, kita menerima kehendak-Nya menjadi laki-laki. Tak ada yang berhak menilai bahwa laki-laki lebih baik daripada perempuan. Begitupun sebaliknya.           Diskursus tentang laki-laki dan perempuan sejatinya tak pernah surut. Ia justru menjadi bola liar yang dihiasi api kebencian. Hasilnya; dikotomi ekstrem tentang siapa yang menderita di antara dua jenis kelamin tersebut. Di sini, saya tak akan menyoroti hal-hal yang berada di luar pengamatan dan pengalaman saya. Apa yang akan saya ungkapkan sejatinya adalah hasil renungan dan perasaan yang telah dilalui. Jika tak setuju, tak masalah. Saya hanya ingin b...

Larangan Pernikahan Orang Sunda-Jawa; Sebuah Mitos Diskriminatif

Image
  Sumber: Espos.id Bukankah cinta adalah hak segala entitas yang hidup di muka bumi? Bicara tentang cinta, kita semua rasanya setuju bahwa ia adalah rasa yang tak bisa kita atur arah tujunya. Begitu merasakan apa itu cinta, kita hanya bisa menikmati masa-masa kasmaran yang bagi kebanyakan orang tak masuk akal. Ketika cinta tumbuh, tak ada yang bisa kita lakukan selain merawat cinta itu hingga mekar dan berkembang selayaknya. Namun, universalitas kata “cinta” nampaknya tak berlaku demikian untuk orang Sunda. Dalam hal cinta, orang Sunda terkenal akan keramahan dan sifat sabarnya. Bisa dibilang, orang Sunda itu someah . Maka, banyak orang—khususnya beberapa teman saya—yang mudah mendapatkan cinta karena keramahannya itu. Nah, keramahan yang bisa menjadi jalan dalam mendapatkan cinta itu tidak ada artinya jika orang di sekeliling kita masih memercayai mitos. Dalam budaya Sunda, ada satu mitos yang cukup familiar di telinga saya. Mitosnya itu adalah larangan bagi orang Sunda untuk meni...

Apakah Nenek Moyang Kita Sungguh Seorang Pelaut?

Image
Sumber: Metrum.co.id Nenek moyangku seorang pelaut Gemar mengarung luas Samudra Menerjang ombak, tiada takut Menempuh badai. sudah biasa Penggalan lagu ciptaan Ibu Sud di tahun 1940 itu rasanya cukup menggambarkan bagaimana nenek moyang bangsa Indonesia; seorang pelaut. Kedigdayaan nenek moyang kita sebagai pelaut sepertinya merujuk kepada kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara yang punya kekuatan dan kuasa atas wilayah maritim dulu. Sebut saja Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7—13) yang menjadi pusat perdagangan internasional dan berhasil menguasai jalur perdagangan maritim di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Atau Kerajaan Majapahit (abad ke-13—16) yang menjadikan pelayaran sebagai cara untuk memperluas pengaruh politik dan ekonomi. Dua kerajaan ini tampak mencirikan bagaimana penguasaan nenek moyang kita dahulu terhadap pelayaran di Nusantara. Selain itu, kondisi geografis wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau juga menyebabkan bangsa Indonesia tidak merasa asing denga...

Perkampungan Budaya Betawi: Antara Pelestarian Budaya Betawi dan Selera Pasar

Image
  Jembatan di Perkampungan Budaya Betawi Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan terletak di Jalan Moh. Kafi II, RT 13 RW 8 Srengseng Sawah, Kec. Jagakarsa, Jakarta Selatan. Luas wilayah di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan mencapai 289 hektar yang terdiri dari lahan milik pemerintah dan lahan milik masyarakat setempat. Mayoritas lahan di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini merupakan lahan milik masyarakat Betawi yang sejak lama telah tinggal di daerah ini. Lahan kepemilikan pemerintah di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini kemudian dikelola oleh Dinas Kebudayaan, Dinas Sumber Daya Air, dan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi Jakarta. Secara sederhana, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan memiliki beberapa zona, di antaranya adalah Zona A, Zona B, Zona C, dan Zona Embrio. Zona A merupakan tempat pelestarian kesenian Betawi, seperti Museum Betawi, amphitheater , dan gedung serbaguna. Di dalam Museum Betawi, pengunjung dapat menikmati koleksi batik Bet...

Jakarta: Keterancaman Eksistensi dan Budaya

Image
  Ondel-Ondel Museum Betawi Jakarta, sebagai kota metropolitan, menjadi kota yang tidak dapat menghindarkan diri dari percampuran manusia. Jakarta menjadi muara bagi setiap orang yang datang dengan berbagai latar belakang untuk mencari peruntungan. Kondisi Jakarta yang menjadi pusat ekonomi menyuguhkan tawaran yang menggiurkan bagi setiap orang yang berniat mencari penghidupan lebih layak di Jakarta. Migrasi yang dilakukan orang-orang dari beberapa daerah ke Jakarta mengakibatkan masyarakat pribumi yang mendiami Jakarta—dikenal sebagai masyarakat Betawi—perlahan mulai terancam. Keterancaman masyarakat Betawi akibat derasnya arus migrasi orang-orang dari luar Jakarta tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi keberlangsungan hidup. Hal tersebut memaksa masyarakat Betawi melakukan berbagai kompromi agar dapat mempertahankan eksistensinya di tengah gempuran urbanisasi Jakarta. Sebagai gambaran, penduduk asli atau pribumi daerah Jakarta merupakan suku Betawi yang berasal dari...

Pupujian: Tradisi Lisan Sunda yang Sarat Nilai

Image
  Sumber: Jernih.co Tradisi lisan adalah sebuah perwujudan dari kebudayaan dan pranata sosial yang terdapat dalam suatu masyarakat. Tradisi lisan yang secara turun-temurun diwariskan kepada generasi selanjutnya dapat dipastikan menandung nilai-nilai budaya yang penting untuk dipelihara oleh masyarakat setempat. Nilai-nilai tersebut dihidupi oleh masyarakat pemilik kebudayaan karena hal tersebut merupakan sebuah tradisi yang biasa dilakukan oleh leluhurnya dahulu. Salah satu tradisi lisan yang hidup dalam masyarakat Sunda adalah tradisi pupujian . Tradisi pupujian merupakan sebuah puisi lisan yang berisi ajaran-ajaran agama Islam. Pupujian merupakan sebuah bentuk tradisi lisan yang hadir setelah masuknya agama Islam ke tatar Sunda (Qori’ah et al., 2015). Hal ini menunjukkan adanya akulturasi budaya antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan Sunda. Di dalam pupujian terdapat bentuk-bentuk sastra yang mengadopsi dari bentuk sastra Arab. Hal ini menyebabkan pupujian tidak terlepas dari ...