Sumber: Pixabay Tulisan ini saya buat sebagai refleksi bagi setiap orang yang memiliki ketakutan terhadap hadirnya cinta sejati. Cinta—bagi saya—adalah elemen penting dalam hidup. Cinta menggerakkan jasmani dan rohani untuk bertarung melawan tantangan fisik dan psikis. Ia menjadi suplemen yang membuat manusia merasa hancur atau pantas menjalani kehidupan. Penemuan cinta sesungguhnya sangat tergantung kepada setiap manusia. Ada mereka yang punya jalan lurus dan mulus dalam proses pencariannya. Ada juga mereka yang mesti menapaki jalan terjal dan berbatu untuk menemukannya. Akhirnya, cinta sejati itu akan kita temukan, bagaimana pun caranya. Perihal penemuan cinta sejati, menurut beberapa orang, manusia akan mengalami tiga jenis cinta dalam hidup. Cinta pertama adalah cinta yang kita anggap sebagai “cinta monyet”. Di momen ini, cinta terasa seperti bentuk cinta yang menurut kita ideal; cinta dengan segala bahagianya. Perasaan bahagia yang selalu menyelimuti dianggap sebagai satu-sa...
Sumber Gambar: Berita99.co Sami- sami itu enggak sama artinya dengan sama-sama ! Sebagai seseorang yang terbiasa hidup dalam komunikasi dengan bahasa Sunda, saya hampir selalu menggunakan bahasa Sunda dalam setiap percakapan . Di lingkun gan rumah — ngobrol dengan teman sejawat atau orang tua — bahasa Sunda jadi wujud kecintaan saya sebagai orang Sunda. Uniknya , bahasa Ibu saya adalah bahasa Indonesia. Perlu digarisbawahi kalau bahasa ibu tidak sama dengan bahasa suku asli ibu . Bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali dikenalkan oleh orang tua kita kepada kita . Semisal orang tuanya berasal dari suku Sunda tetapi mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa yang pertama dikenal anak , ya , anak itu berarti p unya bahasa ibu bahasa Inggris . Sebagai salah satu produk dari kebhinekaan , saya enggak pernah diajari bahasa Sunda oleh orang tua sedari kecil . Ayah saya berdarah ...
Sumber Foto: BBC Disclaimer: tulisan ini akan sedikit sensitif dan memancing diskursus keegaliteran laki-laki dan perempuan. Tak perlu dimasukkan ke dalam hati. Cukup ditukar dengan argumentasi. Menjadi laki-laki adalah peran yang diberikan-Nya kepada kita sebagai makhluk di bumi. Tiada konfrontasi atau penolakan, kita menerima kehendak-Nya menjadi laki-laki. Tak ada yang berhak menilai bahwa laki-laki lebih baik daripada perempuan. Begitupun sebaliknya. Diskursus tentang laki-laki dan perempuan sejatinya tak pernah surut. Ia justru menjadi bola liar yang dihiasi api kebencian. Hasilnya; dikotomi ekstrem tentang siapa yang menderita di antara dua jenis kelamin tersebut. Di sini, saya tak akan menyoroti hal-hal yang berada di luar pengamatan dan pengalaman saya. Apa yang akan saya ungkapkan sejatinya adalah hasil renungan dan perasaan yang telah dilalui. Jika tak setuju, tak masalah. Saya hanya ingin b...
Comments
Post a Comment