Posts

Terbaru

Objektifikasi Laki-Laki; Menggugah Kesadaran Egaliter

Image
  Sumber Foto: BBC Disclaimer: tulisan ini akan sedikit sensitif dan memancing diskursus keegaliteran laki-laki dan perempuan. Tak perlu dimasukkan ke dalam hati. Cukup ditukar dengan argumentasi.           Menjadi laki-laki adalah peran yang diberikan-Nya kepada kita sebagai makhluk di bumi. Tiada konfrontasi atau penolakan, kita menerima kehendak-Nya menjadi laki-laki. Tak ada yang berhak menilai bahwa laki-laki lebih baik daripada perempuan. Begitupun sebaliknya.           Diskursus tentang laki-laki dan perempuan sejatinya tak pernah surut. Ia justru menjadi bola liar yang dihiasi api kebencian. Hasilnya; dikotomi ekstrem tentang siapa yang menderita di antara dua jenis kelamin tersebut. Di sini, saya tak akan menyoroti hal-hal yang berada di luar pengamatan dan pengalaman saya. Apa yang akan saya ungkapkan sejatinya adalah hasil renungan dan perasaan yang telah dilalui. Jika tak setuju, tak masalah. Saya hanya ingin b...

Sebuah Catatan Kecil untuk Cerita yang Megah

Image
  Sumber: Pixabay Tulisan ini saya buat sebagai refleksi bagi setiap orang yang memiliki ketakutan terhadap hadirnya cinta sejati. Cinta—bagi saya—adalah elemen penting dalam hidup. Cinta menggerakkan jasmani dan rohani untuk bertarung melawan tantangan fisik dan psikis. Ia menjadi suplemen yang membuat manusia merasa hancur atau pantas menjalani kehidupan. Penemuan cinta sesungguhnya sangat tergantung kepada setiap manusia. Ada mereka yang punya jalan lurus dan mulus dalam proses pencariannya. Ada juga mereka yang mesti menapaki jalan terjal dan berbatu untuk menemukannya. Akhirnya, cinta sejati itu akan kita temukan, bagaimana pun caranya. Perihal penemuan cinta sejati, menurut beberapa orang, manusia akan mengalami tiga jenis cinta dalam hidup. Cinta pertama adalah cinta yang kita anggap sebagai “cinta monyet”. Di momen ini, cinta terasa seperti bentuk cinta yang menurut kita ideal; cinta dengan segala bahagianya. Perasaan bahagia yang selalu menyelimuti dianggap sebagai satu-sa...

Larangan Pernikahan Orang Sunda-Jawa; Sebuah Mitos Diskriminatif

Image
  Sumber: Espos.id Bukankah cinta adalah hak segala entitas yang hidup di muka bumi? Bicara tentang cinta, kita semua rasanya setuju bahwa ia adalah rasa yang tak bisa kita atur arah tujunya. Begitu merasakan apa itu cinta, kita hanya bisa menikmati masa-masa kasmaran yang bagi kebanyakan orang tak masuk akal. Ketika cinta tumbuh, tak ada yang bisa kita lakukan selain merawat cinta itu hingga mekar dan berkembang selayaknya. Namun, universalitas kata “cinta” nampaknya tak berlaku demikian untuk orang Sunda. Dalam hal cinta, orang Sunda terkenal akan keramahan dan sifat sabarnya. Bisa dibilang, orang Sunda itu someah . Maka, banyak orang—khususnya beberapa teman saya—yang mudah mendapatkan cinta karena keramahannya itu. Nah, keramahan yang bisa menjadi jalan dalam mendapatkan cinta itu tidak ada artinya jika orang di sekeliling kita masih memercayai mitos. Dalam budaya Sunda, ada satu mitos yang cukup familiar di telinga saya. Mitosnya itu adalah larangan bagi orang Sunda untuk meni...

3 Paradoks Bulan Ramadan

Image
  Sumber: Detik.com Bulan Ramadan nyatanya terasa kaya bulan biasa aja, kok… Hari ini, Sabtu, 1 Maret 2025, tepat 1 Ramadan 1446 H. Seperti biasa, bulan Ramadan jadi waktu yang sakral buat umat Islam berpuasa. Laki-laki yang sudah balig wajib hukumnya menahan hawa nafsu dan rasa lapar berikut haus dari Subuh hingga terbenamnya matahari (baca: Magrib). Bagi perempuan, tentu wajib juga berpuasa. Tapi, sebagaimana kodratnya perempuan dengan segala halangan, maka puasa bisa punya tiga hukum: wajib, sunnah, dan haram. Puasa jadi wajib ketika sedang enggak kedatangan tamu bulanan. Puasa jadi sunnah ketika kondisi tertentu sedang melanda, misalnya hamil. Puasa jadi haram kalau jelas-jelas ada tamu bulanan yang datang. Tapi, puasa bukan sekadar perihal wajib, sunnah, atau haram yang punya implikasi terhadap pahala dan dosa yang didapat. Dalam rangkaian bulan Ramadan, setidaknya ada hal-hal yang menurut pandangan saya justru berkontradiksi. Kiranya inilah beberapa hal-hal tersebut. 1. ...

Kenapa Sih Hal-Hal Kecil Aja Harus Bohong?

Image
  Sumber: Brilio.net Hotman Paris, bukan asli Paris. Gudang garam, isinya bukan garam. Mie goreng, bikinnya harus direbus. Kenapa, sih, hal-hal kecil gini aja harus bohong? Selaku penikmat media sosial, hari-hari selalu saja ada gebrakan baru berwujud FYP. Entah itu di X, Instagram, TikTok, atau platform media lainnya. Nyatanya, mencuatnya trend itu justru jadi penghibur—sekaligus juga refleksi. Yang teranyar, konsep trend “kenapa sih hal-hal kecil aja harus bohong?”. Jujur, trend ini bikin diri saya refleksi sejenak. Awalnya, saya anggap konten FYP berisi video seseorang yang melamun diselingi capture “Gudang garam, isinya rokok, bukan garam”, “JKT48, jumlah personelnya bukan 48”, atau “Reza Arap, bukan dari Arab” cuma hiburan belaka. Pelepas penat di media sosial setelah seharian beraktivitas. Lama-lama, saya sadar; kebohongan-kebohongan kecil dalam hidup mungkin disebabkan oleh ekspektasi kita juga. Saya coba bawa konteks ini ke kehidupan saya. Cerita kita mulai dari masa SMP. S...

Rekomendasi Tempat Nge-Date (Dulu) di Bandung Versi Saya

Image
Sumber: Kumparan   Nge-date versi saya dulu kayanya enggak jauh-jauh dari kuliner, deh… Ngomongin soal ngedate, tiap pasangan kayanya punya preferensi masing-masing ke mana mereka bakal ngabisin waktu sama orang tersayang. Entah itu dinner romantis di restoran sambil liat citylight, hiking ke gunung, atau cuma pergi ke daerah dataran tinggi biar bisa healing dan deeptalk. Tujuannya tentu tiada lain tiada bukan adalah untuk hanya bisa punya waktu dan kesempatan untuk ada di situasi romantis dan syahdu sama orang yang dicinta. Tapi, contoh-contoh kegiatan di atas kayanya enggak relate di hubungan saya dulu. Saya dan pacar saya dulu lebih sering pergi ke tempat-tempat yang “memaksa” kami untuk makan. Singkatnya; kami sering ngedate di tempat makan! Kayanya enggak cocok kalau disebut ngedate. Ya, anggap aja makan berdualah, ya. Sebagai anak dari kabupaten yang sekolah di Kota Bandung, satu di antara culture shock yang saya rasakan adalah bertaburnya tempat makan yang bisa dicoba....

Apakah Nenek Moyang Kita Sungguh Seorang Pelaut?

Image
Sumber: Metrum.co.id Nenek moyangku seorang pelaut Gemar mengarung luas Samudra Menerjang ombak, tiada takut Menempuh badai. sudah biasa Penggalan lagu ciptaan Ibu Sud di tahun 1940 itu rasanya cukup menggambarkan bagaimana nenek moyang bangsa Indonesia; seorang pelaut. Kedigdayaan nenek moyang kita sebagai pelaut sepertinya merujuk kepada kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara yang punya kekuatan dan kuasa atas wilayah maritim dulu. Sebut saja Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7—13) yang menjadi pusat perdagangan internasional dan berhasil menguasai jalur perdagangan maritim di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Atau Kerajaan Majapahit (abad ke-13—16) yang menjadikan pelayaran sebagai cara untuk memperluas pengaruh politik dan ekonomi. Dua kerajaan ini tampak mencirikan bagaimana penguasaan nenek moyang kita dahulu terhadap pelayaran di Nusantara. Selain itu, kondisi geografis wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau juga menyebabkan bangsa Indonesia tidak merasa asing denga...