Posts

Meninjau Distilasi Alkena dalam Skena Sastra Populer

Image
Sumber: Goodreads Distilasi Alkena merupakan buku yang ditulis oleh Wira Nagara, yang menceritakan tentang patah hati Wira Nagara ketika ditinggal pergi oleh kekasihnya. Kemudian, kisah selanjutnya dari mantan Wira Nagara itu diceritakan lagi olehnya di dalam buku kedua berjudul “Disforsia Inersia”. Jadi, kedua buku tersebut saling berhubungan. Melihat dari perbedaan karakteristik budaya elit dan budaya massa, dapat terlihat bahwa Wira Nagara mengalami alienasi atau terasing dalam kenyataan hidup dan mewadahi selera konsumen. Karakteristik ini dapat terlihat dari begitu digandrunginya Wira Nagara oleh para remaja yang aktif di Instagram, YouTube , dan blog. Di media Instagram, Wira Nagara cukup sering membuat instastory tentang senja yang disisipi kata-kata yang mengandung rima a-a-a-a—yang dianggap sangat puitis dan relevan oleh sebagian pengikutnya. Di media YouTube sendiri, Wira Nagara mempunyai channel yang bernama “Wira Nagara”. Di dalam channel tersebut, Wira Nagara serin...

Wirausaha, Kerja, S2: Dilema Sarjana Muda?

Image
  Sumber: Seruni.id “Engkau sarjana muda, resah tak dapat kerja. Tak berguna ijazahmu”~ Sebuah perbincangan menggelitik muncul saat seorang ibu bertanya pada anaknya saat wisuda. “Ini yang diwisuda berapa mahasiswa?” “4000 lebih.” “Sarjananya banyak tapi lapangan kerjanya gak ada.” Siip. Kala itu, Universitas Pendidikan Indonesia menggelar acara wisuda gelombang III, 25-27 Oktober 2022. Jumlah wisudawan saat itu memang 4000-an mahasiswa; terdiri dari jenjang D3, S1, S2, dan S3. Wisudawan S1 memang mendominasi jumlah wisudawan dengan jumlah sekitar 4000-an. Angka yang banyak untuk ukuran manusia. Macet, sorak-sorai adik tingkat—atau kakak tingkat yang belum lulus—dan tukang bunga jadi pemandangan kampus selama beberapa hari. Juga tentunya kemacetan lalu lintas di Jalan Setiabudhi sampai Terminal Ledeng. Maklum, selama ini, kan, wisuda cuma online . Agak kurang asyik. Hari itu jadi hari yang melegakan buat sebagian orang—dan jadi hari yang menakutkan bagi sebagian orang lagi. melegak...

Salahkah Bila Mudah Jatuh Cinta?

Image
  Jika mudah jatuh cinta adalah sebuah kesalahan, maka aku adalah orang yang tak mengenal kebenaran~ Cinta adalah seni dalam hidup. Ia mampu memberi warna dan tak membuat hidup jadi monoton. Cinta juga bisa jadi bom waktu jika tak dikelola secara bijak. Tumbuhnya cinta memang tak bisa direka atau diterka. Ia tak bisa dipaksa tumbuh atau dibunuh. Cinta tumbuh secara alamiah, tanpa bisa dicegah. Rasa cinta berhak dimiliki oleh setiap orang. Rasa cinta juga berhak ditujukan kepada setiap orang—tentu dengan cara yang sejalan dengan tujuannya. Rasa cinta kepada orang tua, misalnya, bisa ditunjukkan dengan cara bantu perekonomian keluarga, enggak banyak ngeluh dengan kondisi keluarga, atau menghargai setiap momen bersama keluarga. Rasa cinta kepada pasangan, misalnya, bisa ditunjukkan lewat perhatian yang dicurahkan, bersedia jadi tempat dengerin doi cerita, atau jadi support system yang paripurna buat masa depannya kelak. Sayangnya, rasa cinta ke pasangan enggak bisa ditunju...

Hold On Itu Perlu, Move On Itu Tuju

Image
  Jangan sampai move on cuma jadi ajang pelampiasan buat hati yang terlanjur sakit ~ Di dalam sebuah hubungan—dalam hal ini percintaan—pasti bakal ada sejuta rasa yang tercipta. Rasa senang, emosi, sedih, adalah beberapa rasa yang umumnya ada di sebuah hubungan. Rasa yang campur aduk itu punya tendensi kepada jalannya sebuah hubungan. Hubungan yang didominasi rasa senang bakal bikin kehidupan suatu pasangan diliputi kebahagiaan terus-menerus. Rasanya, tiap hari pengen aja ketemu, saling cerita, dan jalan-jalan keliling kota. Cemburu, negative thinking , bosen, enggak ada dalam kamus pasangan ini. Sebaliknya, hubungan yang didominasi rasa sedih atau emosi juga bakal bikin satu pasangan punya kerjaan bersama; berantem. Tiap hari, pasti ada aja yang diributin. Entah soal telat ngabarin, enggak ngasih pap kalau lagi jalan keluar, atau si cowok terlalu baik buat si cewek, pasti aja diributin. Kehidupan pasangan yang gini sebetulnya minim probabilitas untuk tetap menghidupi hubun...

Sidang Skripsi: Ketegangan dan Kelegaan yang Terjadi

Untuk satu waktu, ketegangan menjadi racun dan kelegaan adalah obatnya. Sebuah sepeda motor melaju kencang di jalanan. Dikejar waktu, membelah udara pagi yang dingin. Tidak ada beban berlebih yang diangkut, hanya seorang manusia dengan tumpukan kertas dalam ransel. Pagi hari adalah pertarungan bagi setiap pemimpi dalam mencapai angannya. Pagi itu jadi hari yang menegangkan bagi saya dan teman-teman kelas di kampus. Kalau diibaratkan, ya, semacam hari penghakiman—atau hari pembantaian lebih afdol disebutnya. Pertarungan antara hidup dan mati. Hidup jikalau berhasil melaksanakan sidang dengan baik dan lulus. Mati apabila gagal dalam sidang dan diharuskan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang tak murah. Tentu, lulus secepatnya dari kampus adalah salah satu cara agar tak menjadi donatur kampus membayar uang berjuta-juta itu. Ya enggak bisa menampik juga komersialisasi pendidikan memang nyata ~ Sebelum mulai sidang, tercium kabar bahwa ada briefing terlebih dahulu. Mau tak mau,...

Skripsi dan Kisah Cinta yang Enggan Terjadi

  Skripsi dan Kisah Cinta yang Enggan Terjadi Semua berawal dari idealisme saya; tentang skripsi dan cinta. Entah darimana datangnya pandangan idealisme yang mulai terasa makin menggerogoti pikiran sejak kelas 1 SMA. Ketika itu, saya mulai memiliki cita-cita untuk hidup lurus menurut pandangan pribadi tentang orang jujur. Masa SMA, saya mulai mempersempit perilaku dan pikiran yang menyimpang dari hakikat sebagai seorang pelajar. Mengurangi keluyuran, menuruti aturan sekolah—walaupun sedikitnya ada juga yang dilanggar—dan memaksimalkan kapasitas otak untuk diisi hal-hal yang bermanfaat. Memang naif menafikan bahwa solidaritas kawan-kawan SMA lebih dari segalanya dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Toh idealisme itu tidak tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Ada hal-hal yang menggiring cita-cita itu kepada keburukan. Sesekali wajar saja kalau tergoda. Masa SMA adalah masa yang paling berkesan pun saya dapatkan; mendapat pacar dan melanjutkan kuliah di universitas negeri....

Tiga Alasan Isi Bensin di Shell Lebih Nyaman Dibandingkan di Pertamina

Image
  Ada harga ada kualitas itu nyata adanya .           Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah jadi komoditi pokok bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia yang memiliki kendaraan. Setiap hari—atau dalam jangka waktu beberapa hari—pengguna kendaraan perlu mengisi bensin kendaraannya. Kalau kendaraan tak diisi bensin, ya, harus rela jalan sehat dorong motor.             Kondisi itu disebabkan oleh kenyataan bahwa masyarakat kita masih ogah untuk pindah ke transportasi umum macam angkot, bus, kereta, dan lain-lain. Alasan kepraktisan dan sarana yang belum mendukung jadi salah dua bentuk pembelannya. Untuk urusan ini, biarlah berlalu dulu. Enggak akan saya bahas di sini sekarang, kok.             Sebagai pengguna kendaraan—apalagi yang sehari-hari beraktivitas menggunakan kendaraan—beli bensin tiap hari itu memang sedikit mencolek isi dompet. Biaya perawat...